Photo Kenangan kami

Kumpulan Photo Kenangan Kami Selama Kuliah di KHJ

Anggota Kelas Angkatan 13 KHJ

Kino, Apip, Reza, Purna, Krisna, Surya, Doni, Perry, Iwan, dedi, Moret, Jimmy, Fitri, Echi, Ayu, Nelly, BU NEL, Yuli, Indah, Sindy, Siti, Eli, Ary, Atin, Wati, Mufti, Emy, Rita, Septi, Ema, Mytha, Eka

Photo bareng di pstw

Photo Bersama Di Panti Werda PSTW Pondok Indah jakarta Selatan

Diskusi

Diskusi Di Perpustakaan Kampus

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Fatty Liver

Definisi Fatty Liver, NAFLD, NASH

Nonalcoholic fatty liver disease (NAFLD) mengacu pada spektrum yang lebar dari penyakit hati mulai dari fatty liver sederhana (steatosis), sampai ke nonalcoholic steatohepatitis (NASH), dan cirrhosis (irreversible, advanced scarring of the liver). Semua tingkat dari NAFLD mempunyai bersama-sama akumulasi dari fat (fatty infiltration) kedalam sel-sel hati (hepatocytes). Pada NASH, akumulasi fat dihubungkan dengan derajat yang bervariasi dari peradangan (hepatitis) dan luka parut (fibrosis) dari hati.
Istilah nonalchoholic dipakai karena NAFLD dan NASH terjadi pada individu-individu yang tidak mengkonsumsi jumlah alkohol berlebihan. Bagaimanapun pada banyak aspek, gambaran histologik dari NAFLD (ketika kita lihat bagian biopsi dari hati dibawah mikroskop) adalah sama dengan apa yang dapat dilihat pada penyakit hati yang disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan. Seperti apa yang kita lihat, bagaimanapun, kenyataan-kenyataan klinis pada NAFLD dan NASH sangat berbeda dari pada yang berpenyakit alcoholic liver disease (ALD). 


Spektrum NAFLD

Spektrum NAFLD diperkirakan memulai dan berkembang dari tingkat yang paling sederhana yang disebut simple fatty liver (steatosis). Jadi fatty liver adalah kelainan permulaan didalam spektrum NAFLD. Simple fatty liver hanya menyangkut akumulasi dari lemak/fat didalam sel-sel hati tanpa peradangan atau luka parut (scarring). Fat/lemak sesungguhnya terdiri dari tipe lemak khusus (triglyceride) yang berakumulasi pada kantong yang kecil didalam sel-sel hati. Akumulasi dari lemak didalam sel-sel hati tidak sama dengan sel-sel lemak (adipocytes) yang membentuk lemak tubuh kita. Fatty liver adalah kondisi yang tidak berbahaya, yang berarti dia sendiri tidak akan menyebabkan kerusakan hati yang signifikan.
Tingkat berikut dan derajat keparahannya dalam spektrum NAFLD adalah NASH. Beruntung hanya sebagian kecil dari pasien dengan simple fatty liver yang berkembang menjadi NASH. Seperti yang sudah disinggung, NASH melibatkan akumulasi dari lemak didalam sel-sel hati dan juga peradangan hati. Sel-sel yang meradang dapat menghancurkan sel-sel hati (hepatocellular necrosis). Dalam istilah "steatohepatitis" dan "steatonecrosis", steato mengacu pada fatty infiltration, hepatitis mengacu pada peradangan didalam hati, dan necrosis mengacu pada sel-sel hati yang rusak. Bukti kuat menunjukan bahwa NASH, berlawanan dengan simple fatty liver, bukanlah suatu kondisi yang tidak berbahaya. Ini berarti bahwa NASH pada akhirnya dapat menjurus ke luka parut dari hati (fibrosis) dan kemudian luka parut yang berlanjut yang tidak dapat dikembalikan kesemula (sirosis). Sirosis yang disebabkan oleh NASH adalah tingkat terakhir dan yang paling buruk dalam spektrum NAFLD.
Tetap banyak yang masih belum diketahui tentang NASH dan NAFLD. Sebagai contoh, seperti yang didiskusikan dibawah, kemajuan dari setiap tingkat berbeda dari NAFLD tidak dimengerti betul. Lagipula bahkan spesialis-spesialis hati masih belum sepakat atas definisi mikroskopik yang tepat dari NASH. Walaupun demikian, individu-individu yang mengembangkan satu dari tiga tingkat NAFLD (fatty liver, NASH, atau cirrhosis) berbagi faktor-faktor risiko yang umum. Oleh sebab itu fatty liver dan NASH dijelaskan dalam artikel ini sebagai bagian dari spektrum NAFLD. Ingat, NAFLD dirujukan dengan spektrum keseluruhan dimulai dengan dengan fatty liver, berlanjut ke NASH dan berakhir dengan sirosis. NASH adalah tingkat dari spektrum yang melibatkan akumulasi lemak (steatosis), peradangan (hepatitis) dan scarring (fibrosis) didalam hat

Artikel By:

NEW JOB

NEW UPDATE JOB


PT BUDHI LESTARI ( RAFFLES PSB SCHOOL GADING )



MEDICAL REPRESENTATIVE ( MR )





MEDICAL INFORMATION OFFICER ( MIO )





MIRACLE AESTHETIC CLINIC



Update From


Contoh Surat Lamaran Pekerjaan

INODONESIA VERSI


Kepada :
Yth. HRD MANAGER
RS. .....

Dengan Hormat,

Melalui surat ini saya bermaksud mengajukan permohonan lamaran kerja untuk posisi perawat pada bagian Rawat Inap.

Saya berusia ... tahun, belum menikah dan akan lulus dari Akper ..... Jakarta dengan Terakhir 3,xx. Saya telah memiliki pengalaman kerja selama ... tahun di RSUP .... Jakarta. Saya memiliki motivasi untuk bekerja keras, menyukai interaksi serta bersosialisasi, kemauan untuk belajar dan memperbaiki diri, tanggung jawab, dan mampu bekerja dengan tim maupun personal.

Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan daftar riwayat hidup dan dokumen-dokumen yang urgen menyusul kemudian jika memang dibutuhkan.

Besar harapan saya untuk diberikan kesempatan untuk proses seleksi dan wawancara. Atas segala perhatian dan kebijaksanaannya saya ucapkan terimakasih.

Hormat Saya,


..........


Senam Stroke




Askep Konsep Diri


BAB I
PENDAULUAN

A.    Latar Belakang
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di zaman global seperti sekarang ini berakibat makin kompleks kebutuhan masyarakat. Industrialisasi dan urbanisasi makin lekat pada masyarakat. Ini berakibat makin banyaknya masalah pada kehidupan tidak terkecuali problem sosial. Kurangnya adaptasi untuk mengikuti trend itu menjadi masalah baru dalam kehidupan masyarakat. Ketidakmampuan dalam beradaptasi tersebut berdampak pada kebingungan, kecemasan dan frustasi pada sebagian masyarakat, konflik batin dan gangguan emosional menjadi ladang subur bagi tumbuhnya penyakit mental.  
Di dalam hidup di masyarakat manusia harus dapat mengembangkan dan melaksanakan hubungan yang harmonis baik dengan individu lain maupun lingkungan sosialnya. Tapi dalam kenyataannya individu sering mengalami hambatan bahkan kegagalan yang menyebabkan individu tersebut sulit mempertahankan kestabilan dan identitas diri, sehingga konsep diri menjadi negatif. Jika individu sering mengalami kegagalan maka gangguan jiwa yang sering muncul adalah gangguan konsep diri misal harga diri rendah.
Faktor psikososial merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam kehidupan seseorang (anak, remaja, dan dewasa). Yang mana akan menyebabkan perubahan dalam kehidupan sehingga memaksakan untuk mengikuti dan mengadakan adaptasi untuk menanggulangi stressor yang timbul. Ketidakmampuan menanggulangi stressor itulah yang akan memunculkan gangguan kejiwaan. Salah satu gangguan jiwa yang ditemukan adalah gangguan konsep harga diri rendah, yang mana harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, 1999). Perawat akan mengetahui jika perilaku seperti ini tidak segera ditanggulangi, sudah tentu berdampak pada gangguan jiwa yang lebih berat. Beberapa tanda-tanda harga diri rendah adalah rasa bersalah terhadap diri sendiri, merendahkan martabat sendiri, merasa tidak mampu, gangguan hubungan sosial seperti menarik diri, percaya diri kurang, kadang sampai mencederai diri (Townsend, 1998).
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan pengertian konsep diri ?
2.      Apa saja yang termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri ?
3.      Apa saja pembagian konsep diri ?
4.      Bagaimana kepribadian yang sehat ?
5.      Apa saja gangguan konsep diri ?
6.      Apa saja faktor resiko penyimpangan konsep diri ?
7.      Apa saja masalah dan data yang perlu di kaji ?

C.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan dengan diagnosa gangguan diri.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa mampu mengetahui tentang pengertian konsep diri.
b.      Mahasiswa mampu mengkaji pasien dengan konsep diri.
c.       Mahasiswa mampu menganalisa pasien dengan ganngguan jiwa.
d.      Mahasiswa mampu mendirikan diagnosa keperawatan.
e.       Mahasiswa mampu mengintervensikan asuhan keperawatan.
f.       Mahasiswa mampu mengevaluasi asuhan keperawatan.


Pemberian Obat IV


Definisi
Memberikan obat dengan menginjeksikannya ke dalam jaringan tubuh melalui intravena.

1.      Tujuan
Tujuan dari pemberian obat ini adalah pemberian obat melalui selang intravena atau vemplon yang telah dipasang pada pasien sehingga meminimalkan penusukan pada kulit atau pembuluh darah pasien secara terus – menerus.

a.       Persiapan Alat
1)       Spuit sesuai dengan ukuran
2)       Obat ssuai dengan indikasi
3)       Com
4)       Bak spuit
5)       Kapas alcohol
6)       Sarung tangan
7)       Perlak
8)       Bengkok
9)       Trolly
10)   Buku suntik

b.      Prosedur Tindakan
1)      C uci tangan
2)      J elaskan prosedur yang akan dilakukan serta tujuan dari pemberian obat pada klien
3)       Periksa identitas klien
4)       Pakai sarung tangan
5)       Lakukan pengoplosan obat
6)       Letakkan perlak di bawah tangan klien
7)       Dekatkan bengkok
8)       Stop aliran infus
9)       Desinfeksi area bolus dengan kapas alkohol
10)   Lakukan penyuntikan
11)   Rapikan perlak dan bengkok
12)   Lepas sarung tangan
13)   Periksa kembali kecepatan infuse
14)   Dokumentasikan penyuntikan yang telah dilakukan
15)   Cuci tangan

        Catatan :
·         Prinsip Pemberian Obat ( 10 benar )
1.      Benar obat
2.      Benar pasien
3.      Benar cara
4.      Benar waktu
5.      Benar dosis
6.      Benar dokumentasi
7.      Benar register
8.      Benar prosedur
9.      Benar usia
10.  Benar ruangan

·         Lakukan aspirasi saat memberikan obat.

Prinsip penyuntikan yaitu bersih tetapi ujung jarum yang steril.


Sumber :  Sumber : Potter, Perry, 1999. Buku Saku Keterampilan Dan Prosedur Dasar. Edisi 3. Jakarta : EGC





ASKEP PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN SISTEM RESPIRASI



A.    Konsep Lansia
1.      Pengertian Menua
menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan- lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000).
Manula Adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (constantinpes, 1994)
2.      Batasan-batasan lansia
batasan usia menurut WHO meliputi :
a.       pertengahan yaitu kelompok usia 45-59 tahun
b.      lanjut usia, antar 60-74 tahun
c.       lanjut usia tua, antara 75-90 tahun
d.      usia sangat tua, diatas 90 tahun
3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan
Ø  Hereditas
Ø  Nutrisi
Ø  Status kesehatan
Ø  Pengalaman hidup
Ø  Lingkungan
Ø  Stress

B.     Konsep penyakit
1.      pengertian
respirasi (pernafasan) melibatkan keseluruhan proses yang menyebabkan pergerakan pasif o2 dari atmosfir ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta pergerakan pasif CO2 selanjutnya yang merupakan produk sisa metabolisme dari jaringan ke atmosfir. (sherwood lauralee, 2001)
pernapasan adalah pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara udara dan darah. (corwin elizabet . j 2000)

2.      Perubahan Fisik sistem pernafasan pada lansia.
a.       Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
b.       Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.
c.       Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.
d.       Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²), Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.
e.       Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.
f.        CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
g.       kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.

C.     Faktor-faktor yang memperburuk fungsi paru
a.       Faktor merokok
 Merokok akan memperburuk fungsi paru, yaitu terjadi penyempitan saluran nafas. Pada tingkat awal, saluran nafas akan mengalami obstruksi clan terjadi penurunan nilai VEP1 yang besarnya tergantung pada beratnya penyakit paru tad. Pada tingkat lanjut dapat terjadi obstruksi yang iereversibel, timbul penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) (Silverman dan Speizer, 1996; Burrows, 1990. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
b.       Obesitas
 Kelebihan berat badan dapat memperburuk fungsi paru seseorang. Pala obesitas, biasanya terjadi penimbunan lemak pada leher, dada dan (finding perut, akan dapat mengganggu compliance dinding dada, berakibat penurunan volume paru atau terjadi keterbatasan gerakan pernafasan (restriksi) dan timbul gangguan fungsi paru tipe restriktif (Taylor et al, 1989; Levinxky, 1995. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
c.          Imobilitas
Imobilitas akan menimbulkan kekakuan atau keterbatasan gerak saat otot-otot berkontraksi, sehingga kapasitas vital. paksa atau volume paru akan "relatif' berkurang. Imobilitas karena kelelahan otot-otot pernafasan pada usia lanjut dapat memperburuk fungsi paru (ventilasi paru). Faktor-faktor lain yang menimbulkan imobilitas (paru), misalnya efusi pleura, pneumotoraks, tumor paru dan sebagainya (Mangunegoro, 1992). Perbaikan fungsi paru dapat dilakukan dengan menjalankan olah raga secara intensif (Rahmatullah, 1993. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
d.      Operasi
Tidak semua operasi (pembedahan) mempengaruhi faal paru. Dari pengalaman para ahli diketahui bahwa yang pasti memberikan pengaruh faal paru adalah : (1) pembedahan toraks (jantung dan paru); (2) pembedahan abdomen bagian atas; dan (3) anestesi atau jenis obat anestesi tertentu. Peruhahan fungsi paru yang timbul, meliputi perubahan proses ventilasi, distribusi gas, difusi gas serta perfusi darah kapiler paru. Adanya perubahan patofisiologik paru pasca bedah mudah menimbulkan komplikasi paru: atelektasis, infeksi atau sepsis dan selanjutnya mudah terjadi kematian, karena timbulnya gagal nafas (Rahmatullah, 1997. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
D.    Patogenesis penyakit paru pada usia lanjut
a.       Perubahan anatomik-fisiologik
Dengan adanya perubahan anatomik-fisiologik sistem pernafasan ditambah adanya faktor-faktor lainnya dapat memudahkan timbulnya beberapa macam penyakit paru: bronkitis kronis, emfisema paru, PPOM, TB paru, kanker paru dan sebagainya (Mangunegoro, 1992; Davies, 1985; Widjayakusumah, 1992; Rahmatullah,1994; Suwondo 1990 a, 1990 b; Yusuf, 1990. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
b.      Perubahan daya tahan tubuh
 Pada usia lanjut terjadi penurunan daya tahan tubuh, antara lain karena lemahnya fungsi limfosit B dan T (Subowo, 1993; Roosdjojo dkk, 1988), sehingga penderita rentan terhadap kuman-kuman pathogen virus, protozoa, bakteri atau jamur (Haryanto clan Nelwan, 1990, Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
c.       Perubahan metabolik tubuh
Pada orang usia lanjut sering terjadi peruban metabolik tuhuh, dan paru dapat ikut mengalami peruban penyebab tersering adalah penyakit-penyakit metabolik yang bersifat sistemik: diabetes mellitus, uremia, artritis rematoid dan sebagainya. Fakator usia peranannya tidak jelas, tetapi lamanya menderita penyakit sistemik mempunyai andil untuk timbulnya kelainan paru tadi (Davies,88. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
d.      Perubahan respons terhadap obat
Pada orang usia lanjut, bisa terjadi bahwa penggunaan obat-ohat tertentu akan nemnemberikansan respons atau perubahan pada paru dan saluran nafas, yang mungkin perubahan-perubahan tadi tidak terjadi pada usia muda. Contoh, yaitu penyakit paru akibat idiosinkrasi terhadap obat yang sering digunakan dalam pengobatan penyakit yang sedang dideritanya yang mana proses tadi jarang terjadi pada usia muda (Davies, 1985. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
e.         Perubahan degenerative
Perubahan degeneratif merupakan perubahan yang tidak dapat dielakkaan terjadinya pada individu-individu yang mengalami proses penuaan. Penyakit paru yang timbul akibat proses (perubahan) degeneratif tadi, misalnya terjadinya bronkitis kronis, emfisema paru, penyakit paru obstruktif menahun, karsinoma paru yang terjadinya pada usia lanjut dan sebagainya (Davies, 1985. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)

E.     Penyakit lanjut usia di Indonesia berhubungan dengan gangguan sistem respirasi
Ada beberapa penyakit paru yang menyertai orang usia lanjut, yang paruing ada 4 macam: pneumoni, tuberkulosis paru, penyakit paru obstruktif menahun (PPOM),dan karsinoma paru.
1.      Definisi Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM)
Pengertian. PPOM adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya penyempitan saluran nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa waktu (Mangunegoro, 1992. , Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
2.      Etiologi.
Etiologi penyakit ini belum diketahui. Timbulnya penyakit ini dikaitkan dengan faktor-faktor resiko yang terdapat pada penderita, antara lain merokok sigaret yang berlangsung lama, polusi udara, infeksi paru berulang, umur, jenis kelamin, ras, defisiensi alfa-1 antitripsin, defisiensi antioksidan dan sebagainya. Pengaruh dari masing-masing faktor resiko terhadap terjadinya PPOM adalah saling memperkuat dan faktor merokok dianggap yang paling dominan dalam menimbulkan penyakit ini.
3.      Patofisiologi.
Faktor-faktor resiko yang telah disebutkan di atas akan mendatangkan proses inflamasi bronkus dan juga menimbulknn kerusakan pada dinding bronkiolis terminal. Akibat dari kerusakan yang timbul akan terjadi obstruksi bronkus keel (bronkiolus terminal), yang mengalami penutupan atau obstruksi awal fase ekspirasi. Udara yang pada saat inspirasi mudah masuk ke dalam alveoli, saat ekspirasi banyak yang terjebak. dalam alveolus dan terjadilah penumpukan udara (airtrapping). Hal inilah yang menyebabkan adanya keluhan sesak nafas dengan segara akibat-akibatnya. Adanya obstruksi dini saat awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan ekspirasi dan menimbulkan pemanjangan fase ekspirasi. Fungsi-fungsi paru: ventilasi, distribusi gas, difusi gas, maupun perfusi darah akan mengalami gangguan (Brannon, et al, 1993. , Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
4.      Gambaran klinik. Gambaran klinik yang ditemukan adalah gambaran penyakit paru yang mendasari ditambah tanda-tanda klinik akihat terjadinya obstruksi bronkus. Gambaran klinik bila diamati secara cermat akan mengarah pada dua hal atau dua tipe pokok: (1) mempunyai gambaran klinik dominan ke arah bronkitis kronis (blue bloater type); dan (2) gambaran klinik predominant ke arah emfisema (pink puffer type).
5.      Diagnosis.
Diagnosis PPOM ditegakkan dengan metode yang lazim (terarah dan sistimatik), meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
a.       Pada anamnesis dapat ditemukan keluhan kelemahan badan, batuk, sesak nafas, sesak nafas waktu aktivitas clan nafas berbunyi, mengi atau wheeze. Oleh karena perjalanan penyakitnya lambat, maka anamnesis harus dilakukan secara hati-hati dan teliti.
b.      Pada pemeriksaan fisik, pada penderita tingkat penyakitnya masih awal mungkin tidak ditemukan kelainan. Adanya ekspirasi yang memanjang merupakan petunjuk kelainan dial. Pada penyakit tingkat lanjut, tampak bentuk dada seperti tong, ditemukan penggunaan otot-otot bantu nafas, suara nafas melemah, terdengar suara mengi yang lemah. Kaitting ditemukan (gerak) pernafasan paradoksal. Selain itu dapat ditemukan edema kaki, mites dan jari tabuh (Mangunegoro, 1992; Das Jardin dan Burton, 1995).
c.       Pemerikasaan diagnosis
1)      Sinar x dada dapat menyatakan hiperinflasi paru, peningkatan tanda bronkovaskuler ( bronkitis)
2)      GDA memperkirakan progresi penyakit kronis misalnya peningkatan po2.
3)      Sputum: untuk menentukan adanya infeksi
4)      EKG membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator.




Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More