Photo Kenangan kami

Kumpulan Photo Kenangan Kami Selama Kuliah di KHJ

Anggota Kelas Angkatan 13 KHJ

Kino, Apip, Reza, Purna, Krisna, Surya, Doni, Perry, Iwan, dedi, Moret, Jimmy, Fitri, Echi, Ayu, Nelly, BU NEL, Yuli, Indah, Sindy, Siti, Eli, Ary, Atin, Wati, Mufti, Emy, Rita, Septi, Ema, Mytha, Eka

Photo bareng di pstw

Photo Bersama Di Panti Werda PSTW Pondok Indah jakarta Selatan

Diskusi

Diskusi Di Perpustakaan Kampus

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label LP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LP. Tampilkan semua postingan

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN GERONTIK

 Latar Belakang
Proses menua (aging) merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling berinteraksi satu sama lain . Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu, kelemahan (impairment), keterbatasan fungsional (functional limitations), ketidakmampuan (disability), dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran (Bondan, 2009 dikutip dari http://inna-ppni.or.id/index.php  .
Keperawatan gerontik berkisar pada pengkajian kesehatan dan status fungsional lansia, diagnosa, perencanaan dan implementasi perawatan dan pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan yang teridentifikasi; dan mengevaluasi kekefektivan perawatan tersebut (Potter & Perry, 2005).
Keperawatan gerontik secara holistik menggabungkan aspek pengetahuan dan ketrampilan dari berbagai macam disiplin ilmu dalam mempertahankan kondisi kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual lansia. Hal ini diupayakan untuk memfasilitasi lansia ke arah perkembangan kesehatan yang lebih optimum, dengan pendekatan pada pemulihan kesehatan, memaksimalkan kualitas hidup lansia baik dalam kondisi sehat, sakit maupun kelemahan serta memberikan rasa aman, nyaman, terutama dalam menghadapi kematian (Bondan, 2009 dikutip dari http://inna-ppni.or.id/index.php  .
Hal yang pertama perawat lakukan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lansia adalah pengkajian. Menurut Potter & Perry, (2005), pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan, verifikasi dan komunikasi data tentang klien. Proses keperawatan ini mencakup dua langkah yaitu pengumpulan data dari sumber primer (kliaen) dan sumber skunder (keluarga, tenaga kesehatan), dan analisis data sebagai dasar untuk diagnosa keperawatan.
Tujuan dari pengkajian adalah menetapkan dasar data tentang kebutuhan, masalah kesehatan, pengalaman yang berkaitan, praktik kesehatan, tujuan, nilai dan gaya hidup yang dilakukan klien. Pengumpulan data harus berhubungan dengan masalah kesehatan terutama dengan masalah kesehatan utama yang dimiliki pasien, sehingga data yang didapatkan relevan dengan asuhan keperawatan yang akan dijalankan pada pasien tersebut. Penggunaan format pengkajian standarisasi dianjurkan, karena dapat memberikan tanggung gugat minimal dari profesi keperawatan. Penggunaan format pun memastikan pengkajian pada tingkat yang komprehensif (Potter & Perry, 2005).
Pengkajian yang akan dilakukan oleh mahasiswa K3S bidang keperawatan gerontik berpedoman kepada format yang telah diberikan. Susunan format pengkajian adalah sebagai berikut : riwayat klien/data biografis, riwayat keluarga, riwayat pekerjaan, riwayat lingkungan hidup, riwayat rekreasi, sumber/sistem pendukung yang digunakan, status kesehatan saat ini, status kesehatan masa lalu, riwayat penggunaan obat-obatan, riwayat keluarga & penyakit keluarga, pola kebiasaan sehari-hari, pengkajian fisik, pengkajian keseimbangan, pengkajian fungsional dan pengkajian status mental.
Oleh karena lansia telah mengalami penurunan pada berbagai sistem tubuh yang bersifat fisiologis, termasuk fungsi kognitis, dan juga mungkin interaksi sosial, pengkajian yang kompleks ini direncanakan akan diselesaikan dalam waktu dua hari (lebih dari 2 kali pertemuan). Hal ini juga dimaksudkan untuk menghindari kebosanan dan kesalahpahaman lansia jika lansia berfikir dijadikan objek pembelajaran oleh mahasiswa.

II.            Rencana Keperawatan
Tujuan Umum :         untuk memperoleh informasi tentang masalah kesehatan yang dialami oleh klien guna pembuatan rencana asuhan keperawatan pada klien khususnya mengenai hipertensi
Tujuan khusus     :     mendapatkan data-data klien mengenai :
a.       Riwayat klien/data biografis
b.      Riwayat keluarga
c.       Riwayat pekerjaan
d.      Riwayat lingkungan hidup
e.       Riwayat rekreasi
f.       Sumber/sistem pendukung yang digunakan
g.      Status kesehatan saat ini
h.      Status kesehatan masa lalu
i.        Riwayat penggunaan obat-obatan
j.        Riwayat keluarga & penyakit keluarga
k.      Pola kebiasaan sehari-hari
l.        Pengkajian fisik
m.    Pengkajian keseimbangan
n.      Pengkajian fungsional
o.      Pengkajian
p.      status mental
III.         Rencana Tindakan
  1. Topik     : pengkajian keperawatan
  2. Metode  : wawancara
  3. Media    : format pengkajian
  4. Waktu   : 09.00 – 10.00 WIB
                     
IV. Strategi Pelaksanaan
No
Alokasi Waktu
Kegiatan
1.
10.00 – 10.05
Fase orientasi
·         Mengucapkan salam
·         Membuat kontrak waktu
·         Menjelaskan maksud dan bagian interaksi
2.
10.05 – 10.30
Fase kerja
·         Menjelaskan maksud pengkajian dengan nenek FH.
·         Melaksanakan pengkajian sesuai format.
3.
10.30 – 10.45
Fase terminasi
·         Membuat kesimpulan hasil pertemuan
·         Membuat kontrak waktu pertemuan selanjutnya
·         Mengucapkan salam


V.    Kriteria Evaluasi
     a. Evaluasi struktur
  • Tersedia format pengkajian.
  • Adanya Kontrak waktu antara perawat dan lansia

b. Evaluasi proses
  • Nenek FH mengikuti kegiatan dalam interaksi secara penuh selama 45 menit
  • Nenek FH aktif mengikuti/memberikan tanggapan dan pertanyaan  tentang penurunan fungsi kognitif pada lansia dan reumatoid atritis

c.       Evaluasi hasil
  • Nenek FH dapat menceritakan riwayat penyakitnya.
  • Didapatkan data pengkajiuan sesuai dengan format yang tersedia



DAFTAR PUSTAKA

Bondan, P. (2009). Ranah Penelitaian Keperawatan Gerontik. Di kutip dari http://inna-ppni.or.id/indeks.php.

Potter & Perry. (2005). Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses dan Praktik. EGC ; Jakarta



Sumber : http://fikar-ulfianperawat.blogspot.com/2010/12/laporan-pendahuluan-keperawatan.html

CEDERA KEPALA


A. PENGERTIAN
Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi - decelerasi ) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan.

B. PATOFLOW




Cedera kepala menurut patofisiologi dibagi menjadi dua :

1. Cedera kepala primer
Akibat langsung pada mekanisme dinamik (acelerasi - decelerasi rotasi ) yang menyebabkan gangguan pada jaringan.
Pada cedera primer dapat terjadi :
Gegar kepala ringan
Memar otak
Laserasi 
2. Cedera kepala sekunder
1.      Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti :
2.      Hipotensi sistemik
3.      Hipoksia
4.      Hiperkapnea
5.      Udema otak
6.      Komplikasi pernapasan
7.      infeksi / komplikasi pada organ tubuh yang lain

C. PERDARAHAN YANG SERING DITEMUKAN
1. Epidural Hematoma
Terdapat pengumpulan darah di antara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang - cabang arteri meningeal media yang terdapat di duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri  karena itu sangat berbahaya. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1-2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis.

Gejala-gejala yang terjadi :
Penurunan tingkat kesadaran, Nyeri kepala, Muntah, Hemiparesis, Dilatasi pupil ipsilateral, Pernapasan dalam cepat kemudian dangkal irreguler, Penurunan nadi, Peningkatan suhu
2. Subdural Hematoma
Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut terjadi dalam 48 jam - 2 hari atau 2 minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2 minggu atau beberapa bulan.
Tanda-tanda dan gejalanya adalah : nyeri kepala, bingung, mengantuk, menarik diri, berfikir lambat, kejang dan udem pupil
Perdarahan intracerebral berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri; kapiler; vena.
Tanda dan gejalanya :
Nyeri kepala, penurunan kesadaran, komplikasi pernapasan, hemiplegia kontra lateral, dilatasi pupil, perubahan tanda-tanda vital
3. Perdarahan Subarachnoid
Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah  dan permukaan otak, hampir selalu ada pad cedera kepala yang hebat.
Tanda dan gejala :
Nyeri kepala, penurunan kesadaran, hemiparese, dilatasi pupil ipsilateral dan kaku kuduk

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Pengumpulan data klien baik subyektif atau obyektif pada gangguan sistem persarafan sehubungan dengan cedera kepala tergantung pada bentuk, lokasi, jenis injuri dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya. Data yang perlu didapati adalah sebagai berikut :

1.      Identitas klien dan keluarga (penanggung jawab): nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan, alamat, golongan darah, pengahasilan, hubungan klien dengan penanggung jawab.

2.      Riwayat kesehatan :
Tingkat kesadaran/GCS (< 15), konvulsi, muntah, dispnea / takipnea, sakit kepala, wajah simetris / tidak, lemah, luka di kepala, paralise, akumulasi sekret pada saluran napas, adanya liquor dari hidung dan telinga dan kejang
Riwayat penyakit dahulu haruslah diketahui baik yang berhubungan dengan sistem persarafan maupun penyakit sistem sistemik lainnya. demikian pula riwayat penyakit keluarga terutama yang mempunyai penyakit menular.
Riwayat kesehatan tersebut dapat dikaji dari klien atau keluarga sebagai data subyektif. Data-data ini sangat berarti karena dapat mempengaruhi prognosa klien.

3.      Pemeriksaan Fisik
Aspek neurologis yang dikaji adalah tingkat kesadaran, biasanya GCS < 15, disorientasi orang, tempat dan waktu. Adanya refleks babinski yang positif, perubahan nilai tanda-tanda vital kaku kuduk, hemiparese.
Nervus cranialis dapat terganggu bila cedera kepala meluas sampai batang otak karena udema otak atau perdarahan otak juga mengkaji nervus I, II, III, V, VII, IX, XII.

4.      Pemeriksaan Penujang
·         CT-Scan (dengan atau tanpa kontras) : mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak. Catatan : Untuk mengetahui adanya infark / iskemia jangan dilekukan pada 24 - 72 jam setelah injuri.
·         MRI : Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
·         Cerebral Angiography: Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan trauma.
·         Serial EEG: Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis
·         X-Ray: Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis(perdarahan/edema), fragmen tulang.
·         BAER: Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil
·         PET: Mendeteksi perubahan aktivitas  metabolisme otak
·         CSF, Lumbal Punksi :Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid.
·         ABGs: Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah  pernapasan (oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial
·         Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrkranial
·         Screen Toxicologi: Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran.

Penatalaksanaan
Konservatif:
·         Bedrest total
·         Pemberian obat-obatan
·         Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran)

Prioritas Perawatan:
1.      Maksimalkan perfusi / fungsi otak
2.      Mencegah komplikasi
3.      Pengaturan fungsi secara optimal / mengembalikan ke fungsi normal
4.      Mendukung proses pemulihan koping klien / keluarga
5.      Pemberian informasi tentang proses penyakit, prognosis, rencana pengobatan, dan rehabilitasi.
Tujuan:
1.      Fungsi otak membaik : defisit neurologis berkurang/tetap
2.      Komplikasi tidak terjadi
3.      Kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi sendiri atau dibantu orang lain
4.      Keluarga dapat menerima kenyataan dan berpartisipasi dalam perawatan
5.      Proses penyakit, prognosis, program pengobatan dapat dimengerti oleh keluarga sebagai sumber informasi.   

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan yang biasanya muncul adalah:
1.      Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan depresi pada pusat napas di otak.
2.      Tidakefektifnya kebersihan jalan napas sehubungan dengan penumpukan sputum.
3.      Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan udem otak
4.      Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan penurunan kesadaran (soporos - coma)   
5.      Resiko tinggi gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasi, tidak adekuatnya sirkulasi perifer.

C. INTERVENSI

Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan depresi pada pusat napas di otak.
Tujuan :
Mempertahankan pola napas yang efektif melalui ventilator.
Kriteria evaluasi :
Penggunaan otot bantu napas tidak ada, sianosis tidak ada atau tanda-tanda hipoksia tidak ada dan gas darah dalam batas-batas normal.
Rencana tindakan :
·         Hitung pernapasan pasien dalam satu menit.  pernapasan yang cepat dari pasien dapat menimbulkan alkalosis respiratori dan pernapasan lambat meningkatkan tekanan Pa Co2 dan menyebabkan asidosis respiratorik.
·         Cek pemasangan tube, untuk memberikan ventilasi yang adekuat dalam pemberian tidal volume.
·         Observasi ratio inspirasi dan ekspirasi pada fase ekspirasi biasanya 2 x lebih panjang dari inspirasi, tapi dapat lebih panjang sebagai kompensasi terperangkapnya udara terhadap gangguan pertukaran gas.
·         Perhatikan kelembaban dan suhu pasien keadaan dehidrasi dapat mengeringkan sekresi / cairan paru sehingga menjadi kental dan meningkatkan resiko infeksi.
·         Cek selang ventilator setiap waktu (15 menit), adanya obstruksi dapat menimbulkan tidak adekuatnya pengaliran volume dan menimbulkan penyebaran udara yang tidak adekuat.
·         Siapkan ambu bag tetap berada di dekat pasien, membantu membarikan ventilasi yang adekuat bila ada gangguan pada ventilator.

Tidak efektifnya kebersihan jalan napas sehubungan dengan penumpukan sputum.
Tujuan :
Mempertahankan jalan napas dan mencegah aspirasi
Kriteria Evaluasi :
Suara napas bersih, tidak terdapat suara sekret pada selang dan bunyi alarm karena peninggian suara mesin, sianosis tidak ada.
Rencana tindakan :
·         Kaji dengan ketat (tiap 15 menit) kelancaran jalan napas. Obstruksi dapat disebabkan pengumpulan sputum, perdarahan, bronchospasme atau masalah terhadap tube.
·         Evaluasi pergerakan dada dan auskultasi dada (tiap 1 jam ). Pergerakan yang simetris dan suara napas yang bersih indikasi pemasangan tube yang tepat dan tidak adanya penumpukan sputum.
·         Lakukan pengisapan lendir dengan waktu kurang dari 15 detik bila sputum banyak. Pengisapan lendir tidak selalu rutin dan waktu harus dibatasi untuk mencegah hipoksia.
·         Lakukan fisioterapi dada setiap 2 jam. Meningkatkan ventilasi untuk semua bagian paru dan memberikan kelancaran aliran serta pelepasan sputum.


Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan udem otak
Tujuan :
Mempertahankan dan memperbaiki tingkat kesadaran fungsi motorik.
Kriteria hasil :
Tanda-tanda vital stabil, tidak ada peningkatan intrakranial.
Rencana tindakan :
Monitor dan catat status neurologis dengan menggunakan metode GCS.
Refleks membuka mata menentukan pemulihan tingkat kesadaran.
Respon motorik menentukan kemampuan berespon terhadap stimulus eksternal dan indikasi keadaan kesadaran yang baik.
Reaksi pupil digerakan oleh saraf kranial oculus motorius dan untuk menentukan refleks batang otak.
Pergerakan mata membantu menentukan area cedera dan tanda awal peningkatan tekanan intracranial adalah terganggunya abduksi mata.

Monitor tanda-tanda  vital tiap 30 menit.
Peningkatan sistolik dan penurunan diastolik serta penurunan tingkat kesadaran dan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Adanya pernapasan yang irreguler indikasi terhadap adanya peningkatan metabolisme sebagai reaksi terhadap infeksi. Untuk mengetahui tanda-tanda keadaan syok akibat perdarahan.

Pertahankan posisi kepala yang sejajar dan tidak menekan.
Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran darah otak, untuk itu dapat meningkatkan tekanan intrakranial.

Hindari batuk yang berlebihan, muntah, mengedan, pertahankan pengukuran urin dan hindari          konstipasi yang berkepanjangan.
Dapat mencetuskan respon otomatik penngkatan intrakranial.

Observasi kejang dan lindungi pasien dari cedera akibat kejang.    
Kejang terjadi akibat iritasi otak, hipoksia, dan kejang dapat meningkatkan tekanan intrakrania.
Berikan oksigen sesuai dengan kondisi pasien.
Dapat menurunkan hipoksia otak.

Berikan obat-obatan yang diindikasikan dengan tepat dan benar (kolaborasi).
Membantu menurunkan tekanan intrakranial secara biologi / kimia seperti osmotik diuritik untuk  menarik air dari sel-sel otak sehingga dapat menurunkan udem otak, steroid (dexametason) untuk menurunkan inflamasi,  menurunkan edema jaringan. Obat anti kejang untuk menurunkan kejang, analgetik untuk menurunkan rasa nyeri efek negatif dari peningkatan tekanan intrakranial. Antipiretik untuk menurunkan panas yang dapat meningkatkan pemakaian oksigen otak.

Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan penurunan kesadaran (soporos - coma )
Tujuan :
Kebutuhan dasar pasien dapat terpenuhi secara adekuat.
Kriteria hasil :
Kebersihan terjaga, kebersihan lingkungan terjaga, nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan, oksigen adekuat.
Rencana Tindakan :
      Berikan penjelasan tiap kali melakukan tindakan pada pasien.
Penjelasan dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan kerja sama yang dilakukan pada pasien dengan kesadaran penuh atau menurun.
Beri bantuan untuk memenuhi kebersihan diri.
Kebersihan perorangan, eliminasi, berpakaian, mandi, membersihkan mata dan kuku, mulut, telinga, merupakan kebutuhan dasar akan kenyamanan yang harus dijaga oleh perawat untuk meningkatkan rasa nyaman, mencegah infeksi dan keindahan.

Berikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
Makanan dan minuman merupakan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi untuk menjaga kelangsungan perolehan energi. Diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien baik jumlah, kalori, dan waktu.

Jelaskan pada keluarga tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan yang aman dan bersih.
Keikutsertaan keluarga diperlukan untuk menjaga hubungan klien - keluarga. Penjelasan perlu agar keluarga dapat memahami peraturan yang ada di ruangan.

Berikan bantuan untuk memenuhi kebersihan dan keamanan lingkungan.
Lingkungan yang bersih dapat mencegah infeksi dan kecelakaan.

Kecemasan keluarga sehubungan keadaan yang kritis pada pasien.
Tujuan :
Kecemasan keluarga dapat berkurang
Kriteri evaluasi :
Ekspresi wajah tidak menunjang adanya kecemasan
Keluarga mengerti cara berhubungan dengan pasien
Pengetahuan keluarga mengenai keadaan, pengobatan dan tindakan meningkat.
Rencana tindakan :
·         Bina hubungan saling percaya.
Untuk membina hubungan terpiutik perawat - keluarga.
Dengarkan dengan aktif dan empati, keluarga akan merasa diperhatikan.
·         Beri penjelasan tentang semua prosedur dan tindakan yang akan dilakukan pada pasien.
Penjelasan akan mengurangi kecemasan akibat ketidak tahuan.
·         Berikan kesempatan pada keluarga untuk bertemu dengan klien.
Mempertahankan hubungan pasien dan keluarga.
·         Berikan dorongan spiritual untuk keluarga.
      Semangat keagamaan dapat mengurangi rasa cemas dan meningkatkan keimanan dan                ketabahan dalam menghadapi krisis.

Resiko tinggi gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasi, tidak adekuatnya sirkulasi perifer.
Tujuan :
Gangguan integritas kulit tidak terjadi
Rencana tindakan :
·         Kaji fungsi motorik dan sensorik pasien dan sirkulasi perifer untuk menetapkan kemungkinan terjadinya lecet pada kulit.
·         Kaji kulit pasien setiap 8 jam : palpasi pada daerah yang tertekan.
·         Berikan posisi dalam sikap anatomi dan gunakan tempat kaki untuk daerah yang menonjol.
·         Ganti posisi pasien setiap 2 jam
·         Pertahankan kebersihan dan kekeringan pasien : keadaan lembab akan memudahkan terjadinya kerusakan kulit.
·         Massage dengan lembut di atas daerah yang menonjol setiap 2 jam sekali.
·         Pertahankan alat-alat tenun tetap bersih dan tegang.
·         Kaji daerah kulit yang lecet untuk adanya eritema, keluar cairan setiap 8 jam.
·         Berikan perawatan kulit pada daerah yang rusak / lecet setiap 4 - 8 jam dengan menggunakan H2O2.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Doenges M.E. (1989) Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). Philadelpia, F.A. Davis Company.

Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Louis. Cv. Mosby Company.

Asikin Z (1991) Simposium Keperawatan Penderita Cedera Kepala.  Panatalaksanaan Penderita dengan Alat Bantu Napas, Jakarta.

Harsono (1993) Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada University Press


Download via GOOGLE DOC

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR CRURIS


I. PENGERTIAN
Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000)

II. JENIS FRAKTUR
a.       Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran.
b.      Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
c.       Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
d.      Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.
e.       Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkak.
f.       Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
g.      Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen
h.      Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
i.        Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
j.        Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.

III. ETIOLOGI
a.       Trauma
b.      Gerakan pintir mendadak
c.       Kontraksi otot ekstem
d.      Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma

IV. PATYWAYS
V. MANIFESTASI KLINIS
a.        Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema
b.        Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah
c.        Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur
d.       Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
e.        Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.       Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
b.      Pemeriksaan jumlah darah lengkap
c.       Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
d.      Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal

VII. PENATALAKSANAAN
a.       Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula.
b.      Imobilisasi fraktur
Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna
c.       Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
-          Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan
-          Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
-          Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau
-          Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah

VIII. KOMPLIKASI
a.       Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.
b.      Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
c.       Non union : tulang yang tidak menyambung kembali

IX. PENGKAJIAN
1.      Pengkajian primer
-          Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk
-          Breathing
-          Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
-          Circulation
-          TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut
2. Pengkajian sekunder
a.       Aktivitas/istirahat
-          kehilangan fungsi pada bagian yangterkena
-          Keterbatasan mobilitas
b.      Sirkulasi
-          Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
-          Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
-          Tachikardi
-          Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
-          Cailary refil melambat
-          Pucat pada bagian yang terkena
-          Masa hematoma pada sisi cedera
c.       Neurosensori
-          Kesemutan
-          Deformitas, krepitasi, pemendekan
-          kelemahan
d.      Kenyamanan
-          nyeri tiba-tiba saat cidera
-          spasme/ kram otot
e.       Keamanan
-          laserasi kulit
-          perdarahan
-          perubahan warna
-          pembengkakan lokal
X. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
A.    Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jaringan sekitar fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler
Tujuan : kerusakn mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria hasil:
-          Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
-          Mempertahankan posisi fungsinal
-          Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit
-          Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas
Intervensi:
a.       Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan
b.      Tinggikan ekstrimutas yang sakit
c.       Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit
d.      Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur ketika bergerak
e.       Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
f.       Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan’Awasi teanan daraaah, nadi dengan melakukan aktivitas
g.      Ubah psisi secara periodik
h.      Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi
B.     Nyeri b.d spasme tot , pergeseran fragmen tulang
Tujuan : nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan
Kriteria hasil:
-          Klien menyatajkan nyei berkurang
-          Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat
-          Tekanan darahnormal
-          Tidak ada eningkatan nadi dan RR
Intervensi:
a.       Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri
b.      Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
c.       Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan
d.      Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi
e.       Jelaskanprosedu sebelum memulai
f.       Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif
g.      Drong menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan
h.      Observasi tanda-tanda vital
i.        Kolaborasi : pemberian analgetik

C.     Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaikan
Tujuan: kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan
Kriteria hasil:
-          Penyembuhan luka sesuai waktu
-          Tidak ada laserasi, integritas kulit baik
Intervensi:
a. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainae
b.      Monitor suhu tubuh
c.       Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang menonjol
d.      Lakukan alihposisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh
e.       Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan
f.       Masage kulit ssekitar akhir gips dengan alkohol
g.      Gunakan tenaat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
h.      Kolaborasi emberian antibiotik.




DAFTAR PUSTAKA

Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien, Edisi V, Vol 3. Jakarta. EGC
Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC

Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Vol 3. Jakarta. EGC

Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC


Sumber : http://www.scribd.com/doc/15844105/ASUHAN-KEPERAWATAN-PADA-KLIEN-DENGAN-FRAKTUR-CRURIS

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More