Photo Kenangan kami

Kumpulan Photo Kenangan Kami Selama Kuliah di KHJ

Anggota Kelas Angkatan 13 KHJ

Kino, Apip, Reza, Purna, Krisna, Surya, Doni, Perry, Iwan, dedi, Moret, Jimmy, Fitri, Echi, Ayu, Nelly, BU NEL, Yuli, Indah, Sindy, Siti, Eli, Ary, Atin, Wati, Mufti, Emy, Rita, Septi, Ema, Mytha, Eka

Photo bareng di pstw

Photo Bersama Di Panti Werda PSTW Pondok Indah jakarta Selatan

Diskusi

Diskusi Di Perpustakaan Kampus

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Askep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Askep. Tampilkan semua postingan

ASKEP PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN SISTEM RESPIRASI



A.    Konsep Lansia
1.      Pengertian Menua
menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan- lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000).
Manula Adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (constantinpes, 1994)
2.      Batasan-batasan lansia
batasan usia menurut WHO meliputi :
a.       pertengahan yaitu kelompok usia 45-59 tahun
b.      lanjut usia, antar 60-74 tahun
c.       lanjut usia tua, antara 75-90 tahun
d.      usia sangat tua, diatas 90 tahun
3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan
Ø  Hereditas
Ø  Nutrisi
Ø  Status kesehatan
Ø  Pengalaman hidup
Ø  Lingkungan
Ø  Stress

B.     Konsep penyakit
1.      pengertian
respirasi (pernafasan) melibatkan keseluruhan proses yang menyebabkan pergerakan pasif o2 dari atmosfir ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta pergerakan pasif CO2 selanjutnya yang merupakan produk sisa metabolisme dari jaringan ke atmosfir. (sherwood lauralee, 2001)
pernapasan adalah pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara udara dan darah. (corwin elizabet . j 2000)

2.      Perubahan Fisik sistem pernafasan pada lansia.
a.       Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
b.       Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.
c.       Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.
d.       Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²), Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.
e.       Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.
f.        CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
g.       kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.

C.     Faktor-faktor yang memperburuk fungsi paru
a.       Faktor merokok
 Merokok akan memperburuk fungsi paru, yaitu terjadi penyempitan saluran nafas. Pada tingkat awal, saluran nafas akan mengalami obstruksi clan terjadi penurunan nilai VEP1 yang besarnya tergantung pada beratnya penyakit paru tad. Pada tingkat lanjut dapat terjadi obstruksi yang iereversibel, timbul penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) (Silverman dan Speizer, 1996; Burrows, 1990. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
b.       Obesitas
 Kelebihan berat badan dapat memperburuk fungsi paru seseorang. Pala obesitas, biasanya terjadi penimbunan lemak pada leher, dada dan (finding perut, akan dapat mengganggu compliance dinding dada, berakibat penurunan volume paru atau terjadi keterbatasan gerakan pernafasan (restriksi) dan timbul gangguan fungsi paru tipe restriktif (Taylor et al, 1989; Levinxky, 1995. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
c.          Imobilitas
Imobilitas akan menimbulkan kekakuan atau keterbatasan gerak saat otot-otot berkontraksi, sehingga kapasitas vital. paksa atau volume paru akan "relatif' berkurang. Imobilitas karena kelelahan otot-otot pernafasan pada usia lanjut dapat memperburuk fungsi paru (ventilasi paru). Faktor-faktor lain yang menimbulkan imobilitas (paru), misalnya efusi pleura, pneumotoraks, tumor paru dan sebagainya (Mangunegoro, 1992). Perbaikan fungsi paru dapat dilakukan dengan menjalankan olah raga secara intensif (Rahmatullah, 1993. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
d.      Operasi
Tidak semua operasi (pembedahan) mempengaruhi faal paru. Dari pengalaman para ahli diketahui bahwa yang pasti memberikan pengaruh faal paru adalah : (1) pembedahan toraks (jantung dan paru); (2) pembedahan abdomen bagian atas; dan (3) anestesi atau jenis obat anestesi tertentu. Peruhahan fungsi paru yang timbul, meliputi perubahan proses ventilasi, distribusi gas, difusi gas serta perfusi darah kapiler paru. Adanya perubahan patofisiologik paru pasca bedah mudah menimbulkan komplikasi paru: atelektasis, infeksi atau sepsis dan selanjutnya mudah terjadi kematian, karena timbulnya gagal nafas (Rahmatullah, 1997. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
D.    Patogenesis penyakit paru pada usia lanjut
a.       Perubahan anatomik-fisiologik
Dengan adanya perubahan anatomik-fisiologik sistem pernafasan ditambah adanya faktor-faktor lainnya dapat memudahkan timbulnya beberapa macam penyakit paru: bronkitis kronis, emfisema paru, PPOM, TB paru, kanker paru dan sebagainya (Mangunegoro, 1992; Davies, 1985; Widjayakusumah, 1992; Rahmatullah,1994; Suwondo 1990 a, 1990 b; Yusuf, 1990. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
b.      Perubahan daya tahan tubuh
 Pada usia lanjut terjadi penurunan daya tahan tubuh, antara lain karena lemahnya fungsi limfosit B dan T (Subowo, 1993; Roosdjojo dkk, 1988), sehingga penderita rentan terhadap kuman-kuman pathogen virus, protozoa, bakteri atau jamur (Haryanto clan Nelwan, 1990, Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
c.       Perubahan metabolik tubuh
Pada orang usia lanjut sering terjadi peruban metabolik tuhuh, dan paru dapat ikut mengalami peruban penyebab tersering adalah penyakit-penyakit metabolik yang bersifat sistemik: diabetes mellitus, uremia, artritis rematoid dan sebagainya. Fakator usia peranannya tidak jelas, tetapi lamanya menderita penyakit sistemik mempunyai andil untuk timbulnya kelainan paru tadi (Davies,88. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
d.      Perubahan respons terhadap obat
Pada orang usia lanjut, bisa terjadi bahwa penggunaan obat-ohat tertentu akan nemnemberikansan respons atau perubahan pada paru dan saluran nafas, yang mungkin perubahan-perubahan tadi tidak terjadi pada usia muda. Contoh, yaitu penyakit paru akibat idiosinkrasi terhadap obat yang sering digunakan dalam pengobatan penyakit yang sedang dideritanya yang mana proses tadi jarang terjadi pada usia muda (Davies, 1985. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
e.         Perubahan degenerative
Perubahan degeneratif merupakan perubahan yang tidak dapat dielakkaan terjadinya pada individu-individu yang mengalami proses penuaan. Penyakit paru yang timbul akibat proses (perubahan) degeneratif tadi, misalnya terjadinya bronkitis kronis, emfisema paru, penyakit paru obstruktif menahun, karsinoma paru yang terjadinya pada usia lanjut dan sebagainya (Davies, 1985. Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)

E.     Penyakit lanjut usia di Indonesia berhubungan dengan gangguan sistem respirasi
Ada beberapa penyakit paru yang menyertai orang usia lanjut, yang paruing ada 4 macam: pneumoni, tuberkulosis paru, penyakit paru obstruktif menahun (PPOM),dan karsinoma paru.
1.      Definisi Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM)
Pengertian. PPOM adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya penyempitan saluran nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa waktu (Mangunegoro, 1992. , Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
2.      Etiologi.
Etiologi penyakit ini belum diketahui. Timbulnya penyakit ini dikaitkan dengan faktor-faktor resiko yang terdapat pada penderita, antara lain merokok sigaret yang berlangsung lama, polusi udara, infeksi paru berulang, umur, jenis kelamin, ras, defisiensi alfa-1 antitripsin, defisiensi antioksidan dan sebagainya. Pengaruh dari masing-masing faktor resiko terhadap terjadinya PPOM adalah saling memperkuat dan faktor merokok dianggap yang paling dominan dalam menimbulkan penyakit ini.
3.      Patofisiologi.
Faktor-faktor resiko yang telah disebutkan di atas akan mendatangkan proses inflamasi bronkus dan juga menimbulknn kerusakan pada dinding bronkiolis terminal. Akibat dari kerusakan yang timbul akan terjadi obstruksi bronkus keel (bronkiolus terminal), yang mengalami penutupan atau obstruksi awal fase ekspirasi. Udara yang pada saat inspirasi mudah masuk ke dalam alveoli, saat ekspirasi banyak yang terjebak. dalam alveolus dan terjadilah penumpukan udara (airtrapping). Hal inilah yang menyebabkan adanya keluhan sesak nafas dengan segara akibat-akibatnya. Adanya obstruksi dini saat awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan ekspirasi dan menimbulkan pemanjangan fase ekspirasi. Fungsi-fungsi paru: ventilasi, distribusi gas, difusi gas, maupun perfusi darah akan mengalami gangguan (Brannon, et al, 1993. , Didalam buku R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono. 1999)
4.      Gambaran klinik. Gambaran klinik yang ditemukan adalah gambaran penyakit paru yang mendasari ditambah tanda-tanda klinik akihat terjadinya obstruksi bronkus. Gambaran klinik bila diamati secara cermat akan mengarah pada dua hal atau dua tipe pokok: (1) mempunyai gambaran klinik dominan ke arah bronkitis kronis (blue bloater type); dan (2) gambaran klinik predominant ke arah emfisema (pink puffer type).
5.      Diagnosis.
Diagnosis PPOM ditegakkan dengan metode yang lazim (terarah dan sistimatik), meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
a.       Pada anamnesis dapat ditemukan keluhan kelemahan badan, batuk, sesak nafas, sesak nafas waktu aktivitas clan nafas berbunyi, mengi atau wheeze. Oleh karena perjalanan penyakitnya lambat, maka anamnesis harus dilakukan secara hati-hati dan teliti.
b.      Pada pemeriksaan fisik, pada penderita tingkat penyakitnya masih awal mungkin tidak ditemukan kelainan. Adanya ekspirasi yang memanjang merupakan petunjuk kelainan dial. Pada penyakit tingkat lanjut, tampak bentuk dada seperti tong, ditemukan penggunaan otot-otot bantu nafas, suara nafas melemah, terdengar suara mengi yang lemah. Kaitting ditemukan (gerak) pernafasan paradoksal. Selain itu dapat ditemukan edema kaki, mites dan jari tabuh (Mangunegoro, 1992; Das Jardin dan Burton, 1995).
c.       Pemerikasaan diagnosis
1)      Sinar x dada dapat menyatakan hiperinflasi paru, peningkatan tanda bronkovaskuler ( bronkitis)
2)      GDA memperkirakan progresi penyakit kronis misalnya peningkatan po2.
3)      Sputum: untuk menentukan adanya infeksi
4)      EKG membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator.




ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN FUNGSI INTEGUMEN “ ERITRODERMA “


ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN FUNGSI INTEGUMENERITRODERMA


A.    Konsep lansia

A.    Pengertian Proses Menua
Aging proses atau proses menua merupakan suatu proses biologis yang tidak dapat di hindarkan, yang akan di alami oleh setiap orang.

Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan struktur dan fungsi secara normal, ketahanan terhadap injury termaksud adanya infeksi

B.     Teori-teori proses penuaan
a.       Teori biologis
Teori biologis dapat dibagi dalam:
1.      Teori Genetik Clock
2.      Teori Error Catastrophe
3.      Teori Aoto Immune
4.      Teori Radikal Bebas
5.      Pemakaian dan Rusak
6.      Teori “ immunology slow virus”
7.      Teori stres
8.      Teori rantai silang
9.      Teori progam

b.       Teori kejiwaan sosial
1.      Aktivitas atau kegiatan
2.      Kepribadian berlanjut
3.      Teori pembebasan

c.       Teori psikologi
d.      Teori kesalahan genetik
e.       Rusaknya sistem imun tubuh

C.     Perubahan-perubahan yang terjadi akibat proses penuaan
1.      Perubahan kondisi fisik
2.      Perubahan kondisi mental
3.      Perubahan psikososial
4.      Perubahan kognitif
5.      Perubahan spritual

D.    Faktor-faktor yang mempengaruhui penuaan
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhui ketuaan adalah sebagai berikut:
1.      Hereditas dan keturunan genetik
2.      Nutrisi dan makanan
3.      Status kesehatan
4.      Pengalaman hidup
5.      Lingkungan, dan
6.      Setres.

E.     Usaha-usaha yang dapat di lakukan pada lansia
Usaha-usaha yang dapat dilakukan pada indivindu lanjut usia pada umumnya adalah sebagai berikut:
a.       Harus tetap aktif artinya diharapkan pada lansia:
1.      Hidup sederhana, santai, aktif dengan cara berorganisasi, aktif dalam sosial, berkarya, selalu mengembangkan hobby dan berolahraga.
2.      Dalam melaksanakan aktifitas harus disesuaikan dengan kemampuan, sifat teratur atau kontinue karena bila otot tidak digerakan akan terjadi kehilangan kekuatan 10-15% per mg.

b.      Produktif lansia diharapkan:
1.      Berusaha dapat menghasilkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh: diri sendir dan untuk orang lain.
2.      Sesuatu itu bisa berupa prakarsa atau ide, nasehat, bimbingan dan hasil keterampilan.

F.      Sistem keluarga besar
1.      Lansia adalah sesepuh yang patut dihargai, dihormati, dan diminta nasehat atau doa restu.
2.      Usahakan menyediakan fasilitas-fasilitas kebutuhan harian.
3.      Jagalah privacy.

G.    Sikap keluarga dan masyarakat terhadap lansia
1)      Adanya kecenderungan berpersepsi negatip
2)      Diharapkan mempunyai persepsi positif pada lansia karena merupakan peristiwa alamiah dimana tiap-tiap indivindu akan mengalaminya.
3)      Membangun kebutuhan untuk dicentai, aktualisasi dari lanjut usia
4)      Menciptakan suasana yang menyenangkan yaitu hubungan yang harmonis
5)      Kepada pihak pemerintah keluarga atau masyarakat mengharapkan adanya:
a.       Bantuan kesejahteraan bagi lansia yang berupa perbaikan ekonomi, kesehatan, transportasi, dan perumahan bagi lansia yang tidak mempunyai perumahan.
b.      Bantuan hukum bagi lansia serta perlindungan hukum.
c.       Melaksanakan penelitian atau kegiatan yang rill untuk kesejahteraan lansia, memberikan gizi yang baik dan obat-obatan untuk mencegah terjadinya penyakit yang bisa mempercepat proses penuaan.

B.     Sistem integumen
A.    Pengertian
Integument  berasal dari bahasa yunani yaitu integumentum yang artinya penutup  yang terdiri sebagian besar adalah kulit ,rambut ,kuku, kelenjar.
      
kulit adalah lapisan jaringan  yang terdapat pada  bagian luar yang menutupi  dan melindungi permukaan tubuh. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar keringat  dan kelenjar mukosa.

B.     Lapisan –lapisan kulit
1.      Epidermis
2.      Dermis
3.      Subkutis

C.     Fungsi kulit
1.      Fungsi proteksi
2.      Fungsi absorpsi
3.      Fungsi kulit sebagai pengatur panas
4.      Fungsi eksresi
5.       Fungsi persepsi
6.      Fungsi pembentuk pigmen
7.      Fungsi pembentukan vitamin D


Gangguan  sistim integumen pada lansia

ASKEP ERITRODERMA


A.    Pengertian
 Eritroderma ( dermatitis eksfoliativa ) adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema seluruh / hampir seluruh tubuh , biasanya disertai skuama

Eritroderma merupakan inflamasi kulit yang berupa eritema yang terdapat hampir atau di seluruh tubuh

Dermatitis eksfoliata merupakan keadaan serius yang ditandai oleh inflamasi yang progesif dimana eritema dan pembentukan skuam terjadi dengan distribusi yang kurang lebih menyeluruh

B.     etiologi
a.        Eritrodarma eksfoliativa primer
Penyebabnya tidak diketahui dengan pasti . Termasuk dalam golongan ini eritroderma iksioformis konginetalis

b.      Eritroderma eksfoliativa sekunder
·         Akibat penggunaan obat secara sistemik yaitu penicillin dan derivatnya , sulfonamide , analgetik / antipiretik dan ttetrasiklin.
·         Meluasnya dermatosis ke seluruh tubuh , dapat terjadi pada liken planus , psoriasis , pitiriasis rubra pilaris , pemflagus foliaseus , dermatitis seboroik dan dermatitis atopik.
·         Penyakit sistemik seperti Limfoblastoma.


C.     patofisiologi
Pada dermatitis eksfoliatif terjadi pelepasan stratum korneum ( lapisan kulit yang paling luar ) yang mencolok yang menyebabkan kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negatif . Karena dilatasi pembuluh darah kulit yang luas , sejumlah besar panas akan hilang jadi dermatitis eksfoliatifa memberikan efek yang nyata pada keseluruh tubuh.
Pada eritroderma terjadi eritema dan skuama ( pelepasan lapisan tanduk dari permukaan kult sel – sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat dan sel – sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik / plak jaringan epidermis yang profus.
Mekanisme terjadinya alergi obat seperti terjadi secara non imunologik dan imunologik (alergik ) , tetapi sebagian besar merupakan reaksi imunologik. Pada mekanismee imunologik, alergi obat terjadi pada pemberian obat kepada pasien yang sudah tersensitasi dengan obat tersebut. Obat dengan berat molekul yang rendah awalnya berperan sebagai antigen yang tidak lengkap ( hapten ). Obat / metaboliknya yang berupa hapten ini harus berkojugasi dahulu dengan protein misalnya jaringan , serum / protein dari membran sel untuk membentuk antigen obat dengan berat molekul yang tinggi dapat berfungsi langsung sebagai antigen lengkap.

D.     Manifestasi klinis
1.      Eritroderma akibat alergi obat , biasanya secara sistemik. Biasanya timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Lesi awal berupa eritema menyeluruh , sedangkan skuama baru muncul saat penyembuhan.
2.      Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit
– Eritroderma karena psoriasis
Ditemukan eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninngi daripada sekitarnya dengan skuama yang lebih kebal. Dapat ditemukan pitting nail.
– Penyakit leiner ( eritroderma deskuamativum )
Usia pasien antara 4 -20 minggu keadaan umum baik biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritama seluruh tubuh disertai skuama kasar.
– Eritroderma akibat penyakit sistemik , termasuk keganasan. Dapat ditemukan adanya penyakit pada alat dalam , infeksi dalam dan infeksi fokal.

E.      komplikasi
Komplikasi eritroderma eksfoliativa sekunder :
 - Limfadenopati
 - Hepatomegali

F.      PENGKAJIAN FOKUS
Pengkajian keperawatan yang berkelanjutan dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi. Kulit yang mengalami disrupsi , eritamatosus serta basah amat rentan terhadap infeksi dan dapat menjadi tempat kolonisasi mikroorganisme pathogen yang akan memperberat inflamasi antibiotik , yang diresepkan dokter jika terdapat infeksi , dipilih berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas

1.      Biodata :
1.      Jenis Kelamin
    Biasnya laki – lak 2 -3 kali lebih banyak dari perempuan.
2.      Riwayat Kesehatan
3.      Riwayat penyakit dahulu,
4.      Riwayat Penyakit Sekarang
Mengigil panas , lemah , toksisitas berat dan pembentukan skuama kulit.

2.      Pola Fungsi Gordon
a.       Pola Nutrisi dan metabolisme
Terjadinya kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negative mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh pasien ( dehidrasi).
b.       Pola persepsi dan konsep diri
c.       Konsep diri
Adanya eritema ,pengelupasan kulit , sisik halus berupa kepingan / lembaran zat tanduk yang besr – besar seperti keras selafon , pembentukan skuama sehingga mengganggu harga diri.
3.      Pemeriksaan fisik
a. KU : lemah
b. TTV : suhu naik atau turun.
c. Kepala
d. Mulut
e. Abdomen
f. Ekstremitas
g. Kulit
G.    Diagnosa keperawatan
1. Gangguan integritas kulit b /d lesi dan respon peradangan
2. Gangguan rasa nyaman : gatal b /d adanya bakteri
3. Resti infeksi b /d hipoproteinemia

H.     intervensi keperawatan
DX 1
Tujuan  : setelah dilakuakn asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi peradangan pada kulit
K H         : tidak terjadi lecet di kulit
                  pasien berkurang gatalnya

Intervensi
a. beritahu pasien untuk tidak meggaruk saat gatal
b. mandikan seluruh badan pasien ddengan Nacl
c. oleskan badan pasien dengan minyak dan salep setelah pakai Nacl
d. jaga kebersihan kulit pasien
e. kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pengurang rasa gatal

DX  2
Tujuan : setelah dilakuakn asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi luka pada kulit karena gatal
 K H       : tidak terjadi lecet di kulit
                 pasien berkurang gatalnya

Intervensi
a. beritahu pasien untuk tidak meggaruk saat gatal
b. mandikan seluruh badan pasien ddengan Nacl
c. oleskan badan pasien dengan minyak dan salep setelah pakai Nacl
d. jaga kebersihan kulit pasien
e. kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pengurang rasa gatal

DX 3
               Tujuan : setalah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi
               K H        :  tidak ada tanda – tanda infeksi
                                 ( rubor , kalor , dolor , fungsio laesa )
                                 tidak timbul luka baru

Intervensi
a. monitor TTV
b. kaji tanda – tanda infeksi
c. motivasi pasien untuk meningkatkan nutrisi TKTP
d. jaga kebersihan luka
e. kolaborasi pemberian antibiotic


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More